Tuesday, December 1, 2015

Lakon Putri Kaniswara: Apresiasi untuk Budaya Sunda


Indonesia merupakan negara yang kaya budaya. Salah satunya adalah budaya Sunda yang ada di Jawa Barat. Kebudayaan ini penting untuk kita pertahankan dan lestarikan. Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan mengadakan pagelaran yang menampilkan berbagai macam instrumen budaya di dalamnya. Dengan semangat untuk memperkenalkan dan melestarikan budaya Sunda, Lingkung Seni Sunda Universitas Padjadjaran (Lises Unpad) mengadakan sebuah Pagelaran Akhir Tahun “Lakon Putri Kaniswara”.

 Pada tahun 2015 ini, Pagelaran Akhir Tahun Lises Unpad mengangkat sebuah cerita lakon berjudul “Putri Kaniswara”. Lakon menurut KBBI adalah karangan yang berupa cerita sandiwara. Pagelaran Lakon ini telah sukses dilaksanakan pada Jum’at (27/11) di Lapangan Basket Bale Santika Universitas Padjadjaran kampus Jatinangor. Lakon Putri Kaniswara dilaksanakan dalam dua sesi, yaitu pada pukul 14.00 WIB untuk pelajar dan pukul 19.00 WIB untuk mahasiswa dan umum.
Lakon Putri Kaniswara disutradarai oleh ki dalang Apep A.S Hudaya. Pagelaran ini menyuguhkan cerita Gatot Kaca dan Suteja yang melakukan sayembara memperebutkan seorang wanita agar bisa mendapatkan ilmu dari sang guru. Wanita yang diperebutkan itu adalah Putri Kaniswara.
Lakon Putri Kaniswara menyajikan konsep wayang yang berbeda, yaitu dengan mengolaborasikan antara wayang orang dan wayang golek. Tata musik dalam pagelaran ini juga berbeda dari biasanya karena menggunakan musik dwi warna, yaitu kolaborasi instrumen musik tradisional Sunda dan instrumen musik kontemporer, seperti saxophone, gitar, bass, dan drum. Tata panggung Lakon Putri Kaniswara menggunakan unsur multimedia dalam panggungnya, bekerjasama dengan Cinematografi Club Fikom Unpad.  Lises juga berkolaborasi dengan Vanguard Parkour di mana mereka ikut berperan menjadi pemain dalam pementasan ini, dan menyuguhkan atraksi-atraksi yang menantang.
Ki dalang Apep A.S Hudaya selaku sutradara dalam pagelaran ini mengungkapkan kepuasaannya atas  lakon Putri Kaniswara.
“Untuk ukuran pementasan yang dilakukan Lises, menurut saya Putri Kaniswara ini hasilnya sudah cukup bagus,” ujarnya.
Lises Unpad selaku penyelenggara acara menyatakan bahwa tidak mudah mempopulerkan budaya sendiri, yaitu budaya tradisional Sunda. Hal ini diungkapkan oleh Lisy Tantowi selaku Ketua Panitia Lakon Putri Kaniswara.
 “Hal yang membuat acara ini sukses adalah kerja keras. Kerja bareng menghadapi tantangan. Setiap elemen panitia, mulai dari Acara sampai Konsumsi adalah faktor utama. Terus, ikhtiar berdoa kepada Allah dan orang tua,” ujar Tantowi
Lakon Putri Kaniswara mendapatkan apresiasi yang positif dari para penonton, baik secara kualitas maupun kuantitas. Adapun para pelajar yang datang ke pagaleran ini pada sesi pertama merupakan para pelajar dari SMP dan SMA yang ada di sekitar Jatinangor dan Bandung, yaitu SMA Al-Ma’soem, SMAN 1 Cileunyi, SMPN 3 Jatinangor, dan MAN 2 Bandung. Mereka merasa terkesima dengan pagelaran dari Lises Unpad ini, karena bagi mereka pertunjukan ini adalah pertunjukan yang menyenangkan dan bisa membuat mereka lebih mengenal akan budaya.

"Seru acaranya, menarik! kita dapat ilmu juga, tadi ada tetang narkoba gitu cerita, bikin kita mikir untuk tidak menggunakan narkoba karena itu gak baik buat kesehatan juga. Adegan yang paling saya suka yaitu saat keluarnya gatot kaca dan sutedja," ujar Mela Agustina Sari, salah satu pelajar dari SMA Al Ma’soem. 
Para guru pendamping yang datang pun merasa senang karena Lises Unpad berinisiatif  menyasar para pelajar untuk ikut menyaksikan pagelaran ini.

“Bagus ya  pelajar untuk menyaksikan acara seperti ini, karena penting untuk anak sekolah agar bisa mengenal budaya Sunda,” ujar Yanti, salah satu guru pendamping dari SMPN 3 Jatinangor.
Sementara itu, antusias para penonton mahasiswa dan umum di sesi kedua juga tidak kalah besar. Menurut mereka, pagelaran yang diadakan Lises Unpad kali ini sangat unik dan menarik karena menghadirkan sesuatu yang berbeda, yaitu kolaborasi antara wayang orang dan wayang golek, melalui multimedia dan inovasi lighting panggung. Alur cerita yang mengandung unsur komedi juga menambah daya tarik dari pagelaran ini.

“Baru pertama kali sebenernya nonton acara wayang dan setelah nonton acara ini jadi pengen nonton acara wayang lagi, gak nyesel nonton soalnya keren,” ujar Mutia, mahasiswa Antropologi Unpad.
Lises Unpad diharapkan dapat melakukan pagelaran yang mengandung nilai-nilai budaya Sunda seperti ini secara rutin.  Begitu juga dengan mahasiswa Unpad, Gilang Nur Alam selaku Pendamping Lises Unpad berharap mereka bisa mengikuti jejak dengan melakukan aksi nyata untuk melestarikan budaya.

“Apa yang dilakukan oleh Lises ini sudah bagus, semoga akan terus dilakukan lagi kedepannya dan harus lebih bagus lagi,” ujar Gilang.


2 comments:

  1. Even if youre not affluent abundant to rolex replica watches allow a Patek Philippe for your collection, there are added automated watch brands aural the ability of added boilerplate collectors. In fact, the industry is seeing a rolex replica about-face in watch absorption to adolescent collectors. Yes, even those in their 20's and 30's who accept the agency are searching at alpha and furthering watch collections.Watch-wearing saw a replica watches uk abatement as adaptable phones became commonplace, but timepieces are now generally apparent as both a appearance account and a way to accurate individuality.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...